banner 1080x250
banner 728x250
BUDAYA  

PIODALAN GRIYA KONGCO DWIPAYANA 2026: Simbol Harmoni, Spiritualitas, dan Toleransi yang Terus Menyala di Jantung Kota Denpasar

Denpasar – Tepat pada Senin Pon, 15 Juni 2026, suasana khidmat dan penuh kedamaian menyelimuti Griya Kongco Dwipayana atau Ling Sii Miao yang berlokasi di kawasan Tanah Kilap, Denpasar. Ribuan umat dan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, suku, serta budaya tampak hadir untuk mengikuti rangkaian piodalan yang berlangsung dengan penuh kekeluargaan dan toleransi.

Piodalan tahun ini kembali menjadi momentum penting yang menunjukkan bahwa Bali bukan hanya dikenal sebagai pulau budaya dan pariwisata dunia, tetapi juga sebagai ruang hidup yang mampu merawat keberagaman dalam harmoni. Di tengah perbedaan keyakinan, masyarakat yang datang terlihat membaur, saling menghormati, dan bersama-sama menjaga kesucian tempat ibadah yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang akulturasi budaya di Pulau Dewata.

banner 728x250

Griya Kongco Dwipayana merupakan salah satu tempat peribadatan umat Tionghoa yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat kuat. Keberadaannya diyakini telah berusia ratusan tahun, ditandai dengan ditemukannya sebuah prasasti batu kuno yang bertuliskan nama Dewa Ong Tay Jen dan menyebut Dinasti Qing, sebuah dinasti besar dalam sejarah Tiongkok yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ketua Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana atau yang akrab disapa Atu, menjelaskan bahwa prasasti tersebut ditemukan bersama rembesan air suci yang kemudian menjadi titik awal perjalanan spiritualnya dalam membangun dan mengembangkan tempat suci tersebut. Sejak awal tahun 1990-an, pembangunan Griya Kongco Dwipayana mulai dilakukan hingga akhirnya rampung dan diresmikan pada 9 September 1999.

Keunikan Griya Kongco Dwipayana tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada kuatnya akulturasi budaya yang menyatukan nilai-nilai Tionghoa dan Bali dalam satu kawasan spiritual. Di dalam kompleks suci ini tidak hanya terdapat altar pemujaan khas Kongco, namun juga pelinggih dan simbol-simbol spiritual Bali yang mencerminkan persatuan nilai Siwa-Buddha yang telah lama hidup dalam budaya Nusantara.

Selain itu, terdapat pula tempat pemujaan Tujuh Bidadari yang dipercaya membawa cinta kasih, kemakmuran, dan peningkatan spiritual bagi umat yang datang dengan niat tulus. Masyarakat yang bersembahyang di lokasi ini meyakini bahwa energi spiritual yang ada menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Suasana piodalan tahun ini semakin terasa istimewa karena dihadiri masyarakat lintas agama. Banyak umat Hindu, Buddha, Konghucu, hingga masyarakat umum datang untuk bersembahyang, berdoa, maupun sekadar menyaksikan langsung tradisi yang sarat nilai toleransi tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan.

Tidak hanya menjadi pusat spiritual, Griya Kongco Dwipayana juga berperan besar dalam pelestarian budaya. Melalui Sanggar Mutiara Naga yang berdiri sejak tahun 1999, tempat ini menjadi salah satu pelopor perkembangan seni Barongsai di Bali. Generasi muda terus didorong untuk mempelajari dan melestarikan warisan budaya tersebut sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.

Keberadaan Griya Kongco Dwipayana yang berdampingan dengan kawasan suci dan lingkungan alam seperti Pura Candi Narmada serta kawasan Tahura Ngurah Rai semakin memperkuat posisinya sebagai simbol persatuan budaya, spiritualitas, dan kelestarian lingkungan. Bahkan, lokasi ini pernah menjadi perhatian delegasi internasional saat penyelenggaraan KTT G20 di Bali, yang mengapresiasi tingginya nilai toleransi dan kerukunan yang hidup di tengah masyarakat Bali.

Piodalan Senin Pon, 15 Juni 2026 ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi bukan sekadar bangunan fisik, melainkan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan semangat menjaga keharmonisan. Dari Tanah Kilap, pesan toleransi itu kembali dipancarkan kepada masyarakat luas bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus terus dirawat demi masa depan yang damai dan berkeadaban.

“Berbeda keyakinan bukan alasan untuk terpisah. Di Griya Kongco Dwipayana, keberagaman hadir sebagai kekuatan yang menyatukan dalam semangat persaudaraan, budaya, dan spiritualitas.”

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250