banner 1080x250
banner 728x250
NEWS  

Wayan Sukayasa Soroti Ketimpangan Larangan Plastik di Bali: Modern Retail Taat, Pasar Tradisional Masih Longgar

Foto - Wayan Sukayasa Soroti Lemahnya Pengawasan Larangan Plastik di Pasar Tradisional Bali.

Denpasar, Rabu (27/05/2026) — Kebijakan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai di Bali dinilai mulai menunjukkan hasil positif, khususnya di sektor ritel modern dan pusat-pusat usaha besar. Namun di balik capaian tersebut, masih terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan, terutama di lingkungan pasar tradisional dan pelaku UMKM yang hingga kini dinilai masih kesulitan menjalankan aturan secara menyeluruh.

Tokoh masyarakat sekaligus praktisi yang memiliki latar belakang multidisiplin di bidang teknik, hukum, dan komunikasi, Wayan Sukayasa, menilai implementasi aturan bebas plastik di Bali belum sepenuhnya merata. Menurutnya, keberhasilan yang terlihat di pusat perbelanjaan modern belum mampu menggambarkan kondisi nyata di akar rumput.

banner 728x250

Ia menyoroti masih tingginya ketergantungan pedagang kecil terhadap kantong plastik sekali pakai. Faktor ekonomi disebut menjadi kendala utama karena harga bahan alternatif dinilai belum mampu dijangkau seluruh lapisan usaha kecil. Di sisi lain, lemahnya pengawasan dan belum tegasnya penegakan aturan membuat praktik penggunaan plastik masih terus terjadi secara diam-diam.

“Dalam praktiknya di lapangan, kita masih melihat ada ruang abu-abu. Beberapa pelaku usaha kecil dan pasar tradisional masih menggunakan plastik secara diam-diam. Ini terjadi karena pengawasan berkala belum menyentuh akar rumput secara konsisten, dan sanksi yang diberikan masih bersifat imbauan tanpa efek jera yang kuat. Untuk bisa dibilang sukses penuh, celah ini yang harus segera ditutup,” tegas Wayan Sukayasa pada Rabu (27/05/2026).

Menurutnya, persoalan sampah plastik tidak cukup diselesaikan hanya melalui regulasi formal semata. Bali membutuhkan perubahan pola pikir kolektif agar gerakan pengurangan sampah plastik benar-benar menjadi budaya masyarakat dan bagian dari identitas pariwisata berkelanjutan.

Ia menilai, sektor pariwisata memiliki peran sangat besar dalam menentukan keberhasilan program ini. Hotel, restoran, beach club, villa, hingga tempat wisata disebut harus menjadi contoh nyata penerapan aturan bebas plastik secara konsisten, bukan sekadar menjalankan kewajiban administratif.

“Harapan saya kepada seluruh pengusaha akomodasi wisata di Bali, mari jadikan aturan bebas plastik ini sebagai gaya hidup dan budaya perusahaan, bukan hanya sekadar menjalankan kebijakan,” ujarnya.

Wayan Sukayasa juga menegaskan bahwa kekuatan utama Bali sebagai destinasi wisata dunia bukan semata pada keindahan alamnya, melainkan pada identitas budaya dan nilai lokal yang masih hidup di tengah masyarakat. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, termasuk menekan penggunaan plastik sekali pakai, merupakan bagian dari upaya menjaga marwah dan masa depan pariwisata Bali.

“Wisata Bali itu dibangun dari penguatan implementasi kedaerahan seni, adat, budaya, tradisi, dan kearifan lokalnya. Inilah yang membuat Bali sangat berbeda dan unggul dibandingkan destinasi wisata lain di Indonesia maupun dunia. Menjaga Bali bebas dari sampah plastik adalah bentuk nyata kita merawat warisan budaya dan alam pariwisata ini untuk generasi mendatang,” pungkasnya.

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250