DENPASAR – Kepolisian Daerah Bali kembali menegaskan komitmennya untuk hadir tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga dalam melindungi masa depan generasi muda. Melalui program “Polisi Peduli Pendidikan”, Polda Bali turun langsung ke lingkungan sekolah untuk memberikan edukasi sekaligus memperkuat benteng pencegahan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Wakapolda Bali Brigjen Pol. I Made Astawa, S.I.K., M.S.I., bertindak sebagai pembina upacara bendera di SMA Negeri 1 Denpasar, Senin (19/10/2026). Kehadiran Wakapolda Bali tersebut membawa pesan penting: sekolah harus menjadi ruang aman bagi tumbuhnya generasi muda yang disiplin, berkarakter, berprestasi, serta bebas dari narkoba.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi program prioritas Kapolri dalam mendekatkan institusi Polri dengan dunia pendidikan. Langkah preventif dinilai sangat penting karena perang melawan narkoba tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan terhadap bandar dan jaringan pengedar, tetapi juga harus diperkuat melalui pendidikan, pencegahan, serta peningkatan kesadaran sejak usia sekolah.
Di hadapan ratusan siswa, dewan guru dan staf sekolah, Brigjen Pol. I Made Astawa menyampaikan sejumlah pesan mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kenakalan remaja, serta bahaya penyalahgunaan narkotika.
Wakapolda menegaskan bahwa para pelajar merupakan aset bangsa dan calon penerus kepemimpinan Indonesia. Karena itu, masa depan mereka harus dijaga dari berbagai ancaman yang dapat menghancurkan cita-cita, termasuk narkoba.
“Narkoba adalah musuh bersama yang tidak hanya merusak fisik dan mental pemakainya, tetapi juga menghancurkan masa depan dan cita-cita kalian. Jangan pernah mencoba-coba, karena satu langkah awal yang salah dapat menutup pintu kesuksesan selamanya,” pesan Wakapolda Bali kepada para siswa.
Pesan tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa narkoba bukan persoalan yang boleh dianggap sepele. Penyalahgunaan narkotika dapat membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan, kehidupan sosial, pendidikan, keluarga, bahkan berujung pada persoalan hukum.
Karena itu, para siswa diajak memiliki keberanian untuk mengatakan tidak terhadap narkoba, tidak mudah terpengaruh lingkungan pergaulan yang negatif, serta mampu memilih lingkungan pertemanan yang sehat dan produktif.
Selain menjelaskan dampak buruk narkoba terhadap kesehatan fisik dan mental, Wakapolda Bali turut mengingatkan konsekuensi hukum yang dapat menjerat pihak-pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika.
Polda Bali menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi jaringan narkoba yang berupaya merusak generasi muda. Upaya pencegahan akan terus berjalan beriringan dengan penegakan hukum terhadap para bandar dan pengedar.
Lingkungan pendidikan juga perlu mendapatkan perhatian serius. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi merupakan ruang pembentukan karakter. Karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat dan aparat penegak hukum untuk melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi penyimpangan yang dapat menyeret pelajar ke dalam penyalahgunaan narkoba maupun kenakalan remaja.
Melalui program “Polisi Peduli Pendidikan”, kehadiran Polri di sekolah diharapkan tidak semata-mata dipandang dalam konteks penegakan hukum. Polisi juga hadir sebagai mitra pendidikan yang memberikan pembinaan, edukasi dan perlindungan kepada generasi muda.
Pihak SMAN 1 Denpasar menyambut baik dan mengapresiasi kehadiran jajaran Polda Bali. Kehadiran Wakapolda sebagai pembina upacara dinilai memberikan motivasi sekaligus pesan moral yang kuat kepada para siswa mengenai pentingnya disiplin, kepatuhan terhadap aturan dan tanggung jawab terhadap masa depan masing-masing.
Sinergi antara kepolisian dan institusi pendidikan tersebut diharapkan semakin memperkuat terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, kondusif dan terbebas dari penyalahgunaan narkoba.
Pencegahan juga menjadi sangat penting mengingat generasi muda merupakan kelompok yang harus dilindungi dari berbagai modus dan pengaruh jaringan peredaran narkotika. Edukasi sejak dini diharapkan membuat pelajar memahami bahwa keberanian menolak narkoba merupakan bagian dari keberanian menjaga diri, keluarga, sekolah dan masa depan.
Pesan yang dibawa Polda Bali pun jelas: perang terhadap narkoba harus dimulai dari benteng paling awal, yakni keluarga dan sekolah.
Pelajar tidak boleh menjadi pasar bagi para pengedar. Sekolah tidak boleh menjadi ruang masuk bagi jaringan narkoba. Setiap elemen masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga generasi muda Bali agar tidak kehilangan masa depan akibat narkotika.
Program “Polisi Peduli Pendidikan” sekaligus menjadi wujud pendekatan preventif dan humanis kepolisian. Penegakan hukum tetap dilakukan secara tegas terhadap jaringan peredaran gelap narkoba, sementara edukasi dan pembinaan terus diperkuat untuk mencegah munculnya korban-korban baru.
Polda Bali berharap kegiatan seperti ini dapat membangun kesadaran kolektif di kalangan pelajar bahwa prestasi, disiplin dan karakter positif merupakan modal utama dalam meraih masa depan.
Generasi muda Bali harus tumbuh menjadi generasi yang cerdas, sehat, berintegritas dan berprestasi. Tidak ada tempat bagi narkoba di lingkungan pendidikan, dan tidak boleh ada masa depan anak bangsa yang direnggut oleh barang haram tersebut.
Melalui kolaborasi antara Polri, sekolah, orang tua dan masyarakat, semangat “Polisi Peduli Pendidikan” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan menjadi gerakan bersama untuk menjaga sekolah tetap aman dan melindungi masa depan generasi muda Bali dari ancaman narkoba.
( dd99 )
Langsung ke konten


