Foto : Ist – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bali, Tommy Reza Kurniawan.
Denpasar – Momentum Hari Raya Idulfitri tahun ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi masyarakat Bali. Pasalnya, perayaan Idulfitri yang merupakan hari kemenangan bagi umat Islam bertepatan dengan Hari Raya Nyepi yang menjadi hari suci bagi umat Hindu. Menyikapi situasi tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bali, Tommy Reza Kurniawan, menyampaikan himbauan khusus kepada umat Islam di Bali agar mengedepankan nilai toleransi dengan melaksanakan ibadah Idulfitri dari rumah masing-masing.
Himbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk komitmen menjaga keharmonisan antarumat beragama di Pulau Dewata yang selama ini dikenal sebagai salah satu contoh terbaik kehidupan masyarakat yang rukun dalam keberagaman. Tommy menegaskan bahwa sikap saling menghormati menjadi kunci utama agar dua hari besar keagamaan tersebut dapat berjalan dengan penuh kekhidmatan tanpa menimbulkan gesekan di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya telah ada kesepakatan bersama serta kebijakan yang memberikan kelonggaran dari Gubernur Bali, I Wayan Koster, yang memperbolehkan umat Islam melaksanakan takbiran di masjid atau mushola dengan beberapa ketentuan. Kelonggaran tersebut di antaranya takbiran dilaksanakan tanpa menggunakan pengeras suara dan tidak disertai dengan pawai atau arak-arakan di jalan raya.
Meski demikian, menurut Tommy, langkah yang lebih bijak dan preventif adalah dengan memaksimalkan ibadah dari rumah masing-masing. Hal ini dinilai sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang sedang menjalankan rangkaian Hari Raya Nyepi, yang dikenal dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian—sebuah ritual sakral yang menuntut suasana sunyi, tanpa aktivitas, tanpa perjalanan, serta tanpa kebisingan.
“Ketika kita diberikan ruang oleh saudara-saudara kita yang beragama Hindu untuk tetap menjalankan ibadah saat Nyepi, maka sudah sepatutnya kita membalasnya dengan sikap saling menghormati. Salah satunya dengan memilih beribadah Idulfitri di rumah saja,” ujar Tommy.
Ia menambahkan bahwa Bali selama ini dikenal sebagai “laboratorium toleransi” di Indonesia, tempat di mana nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, serta solidaritas antarumat beragama terus dijaga dan dirawat oleh seluruh elemen masyarakat.
Dalam keterangannya, Tommy juga menekankan tiga poin penting yang perlu diperhatikan oleh umat Muslim di Bali dalam menyambut Hari Raya Idulfitri yang bertepatan dengan Nyepi.
Pertama, umat Islam diharapkan memprioritaskan pelaksanaan ibadah di rumah dan menghindari aktivitas yang dapat menimbulkan keramaian di luar rumah. Langkah ini bertujuan untuk menjaga kekhusyukan umat Hindu yang tengah menjalankan hari suci mereka.
Kedua, masyarakat diminta untuk mematuhi aturan lokal serta kesepakatan bersama yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah dan para tokoh lintas agama demi menjaga situasi tetap kondusif.
Ketiga, umat Islam di Bali diajak untuk membalas sikap toleransi yang telah diberikan oleh pemerintah dan masyarakat Hindu dengan menunjukkan solidaritas serta empati melalui pembatasan aktivitas di ruang publik selama Nyepi berlangsung.
Menurut Tommy, semangat Idulfitri sejatinya bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang kemenangan dalam menahan diri, memperkuat persaudaraan, serta mempererat nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
“Idulfitri adalah momentum untuk kembali kepada kesucian. Jika kita mampu menunjukkan sikap saling menghormati dan menjaga kedamaian, maka itu adalah kemenangan yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Ia pun berharap kesadaran kolektif masyarakat untuk menjalankan ibadah secara sederhana dari rumah dapat menjaga suasana damai di Bali. Dengan demikian, baik umat Islam yang merayakan Idulfitri maupun umat Hindu yang menjalankan Nyepi dapat merasakan kekhusyukan ibadahnya masing-masing tanpa gangguan.
Langkah tersebut dinilai sebagai wujud nyata moderasi beragama yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali. Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya, Pulau Dewata kembali menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.
( dd99 )
Langsung ke konten






