banner 1080x250
banner 728x250
BUDAYA  

Ribuan Pemedek Padati Pura Sakenan Saat Hari Suci Kuningan, Pecalang Desa Adat Pemogan Sigap Jaga Ketertiban Persembahyangan

Foto - Ribuan Pemedek Padati Pura Sakenan Saat Hari Suci Kuningan.

Denpasar – Ribuan umat Hindu dari berbagai kabupaten dan kota di Bali memadati kawasan Pura Sakenan, Desa Serangan, Denpasar Selatan, pada Sabtu (27/6/2026), bertepatan dengan pelaksanaan Hari Suci Kuningan. Kehadiran para pemedek merupakan bagian dari rangkaian Pujawali atau piodalan di salah satu Pura Kahyangan Jagat yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan budaya yang sangat tinggi bagi umat Hindu di Bali.

Sejak pagi hari, arus umat yang datang untuk melaksanakan persembahyangan terus berdatangan. Suasana penuh kekhusyukan tampak menyelimuti kawasan pura. Para pemedek dengan sabar mengantre memasuki utama mandala untuk menghaturkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Meskipun jumlah umat yang hadir sangat banyak, pelaksanaan persembahyangan berlangsung tertib, aman, dan nyaman.

banner 728x250

Ketertiban tersebut tidak lepas dari peran penting Pecalang Desa Adat Pemogan yang dengan penuh dedikasi mengatur jalannya persembahyangan. Para Pecalang tampak sigap mengarahkan jalur masuk dan keluar umat, mengatur antrean menuju utama mandala, memberikan petunjuk kepada para pemedek, serta memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar tanpa mengganggu kekhusyukan umat yang sedang bersembahyang.

Pengabdian para Pecalang menjadi salah satu wujud nyata pelestarian kearifan lokal Bali. Dengan semangat ngayah dan rasa tanggung jawab yang tinggi, mereka menjalankan tugas menjaga keamanan, ketertiban, serta kenyamanan selama berlangsungnya piodalan. Kehadiran Pecalang juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesucian kawasan pura sekaligus memberikan rasa aman bagi ribuan umat yang datang dari berbagai daerah.

Awak media Elang Bali yang turut tangkil di Pura Sakenan menyaksikan langsung suasana persembahyangan yang berlangsung khidmat. Dalam kesempatan tersebut, tampak hadir Wali Kota Denpasar beserta Wakil Wali Kota Denpasar dan jajaran Pemerintah Kota Denpasar yang ikut melakukan persembahyangan bersama masyarakat. Kehadiran pimpinan daerah tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi, budaya, dan kehidupan spiritual masyarakat Bali yang hingga kini tetap terjaga dengan baik.

Piodalan di Pura Sakenan tahun 2026 dilaksanakan bertepatan dengan Hari Suci Kuningan, Sabtu, 27 Juni 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, rangkaian upacara berlangsung selama beberapa hari dan menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kerahayuan, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Puncak karya biasanya dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Kuningan dengan dihadiri ribuan pemedek dari seluruh Bali.

Pura Sakenan sendiri merupakan salah satu pura yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan agama Hindu di Pulau Dewata. Berdasarkan catatan sejarah yang dikutip dari situs Pemerintah Kota Denpasar, Pura Sakenan dikenal sebagai Pura Kahyangan Jagat yang dibangun sebagai perwujudan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam Lontar Usana Bali disebutkan bahwa pura ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Rajakretha, seorang pendeta dari Kerajaan Majapahit yang memiliki peran besar dalam menyatukan berbagai sekte Hindu di Bali.

Sementara itu, berdasarkan prasasti Desa Sading, Pura Sakenan telah berdiri sejak masa pemerintahan Raja Sri Masula Masuli sekitar tahun Isaka 1100 atau 1178 Masehi. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pura Sakenan merupakan salah satu peninggalan sejarah penting yang hingga kini tetap dijaga kelestariannya oleh masyarakat Bali.

Nama “Sakenan” dipercaya berasal dari kata Cakya, yang memiliki makna menyatukan pikiran. Pada masa lampau, kawasan Serangan masih terpisah oleh lautan sehingga menjadi tempat yang tenang untuk melakukan tapa, yoga, dan semadi. Selain sebagai tempat memohon ketenangan batin, Pura Sakenan juga menjadi pusat pemujaan kepada Ida Hyang Baruna, penguasa lautan, yang dipercaya menjaga keselamatan dan keseimbangan alam semesta.

Dari sisi arsitektur, Pura Sakenan mengusung konsep Tri Mandala, yaitu pembagian kawasan pura menjadi nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Di dalam kompleks pura berdiri berbagai pelinggih yang mencerminkan keharmonisan berbagai aliran kepercayaan Hindu pada masa Kerajaan Warmadewa. Nilai-nilai filosofi, sejarah, dan budaya yang terkandung di dalamnya menjadikan Pura Sakenan tidak hanya sebagai pusat persembahyangan, tetapi juga sebagai salah satu warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Bali.

Kini, meskipun Desa Serangan telah terhubung dengan daratan utama melalui akses jalan, kesucian dan nilai spiritual Pura Sakenan tetap terpelihara. Setiap pelaksanaan piodalan, ribuan umat Hindu selalu tangkil untuk mempersembahkan bhakti, memohon keselamatan, serta memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pelaksanaan Pujawali Pura Sakenan tahun 2026 kembali membuktikan bahwa tradisi leluhur, nilai-nilai adat, budaya, dan semangat gotong royong masyarakat Bali tetap hidup dan lestari. Kehadiran ribuan pemedek, dukungan pemerintah daerah, serta pengabdian tanpa pamrih dari Pecalang Desa Adat Pemogan menjadi simbol nyata keharmonisan antara spiritualitas, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Bali yang patut terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250