LOMBOK BARAT – Pelayaran KMP Putri Yasmin dari Pelabuhan Padangbai, Bali, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, berubah menjadi operasi penyelamatan besar setelah kapal tersebut dilaporkan mengalami kebakaran di Perairan Selat Lombok, Rabu (12/8/2026) dini hari.
Sebanyak 212 orang yang terdiri dari penumpang, awak kapal dan unsur pendukung berhasil dievakuasi dari kapal. Dari jumlah tersebut, 211 orang dinyatakan selamat dan satu penumpang meninggal dunia.
Korban meninggal diketahui bernama Indah Dwi Septiani, perempuan asal Mataram yang berdomisili di lingkungan Asrama Brimob Gatep, Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.
Sementara itu, tidak ada korban luka yang dilaporkan berdasarkan informasi dari Balai Kesehatan Lembar.
Insiden ini juga menyisakan persoalan serius terkait data penumpang. Data awal menyebut jumlah penumpang sesuai manifest sebanyak 131 orang, sedangkan data riil korban yang tercatat mencapai 187 penumpang. Dengan demikian, terdapat selisih 56 orang antara manifest dan data aktual penumpang.
Perbedaan tersebut disebut berkaitan dengan pendataan penumpang kendaraan, khususnya penumpang yang ikut bersama pengemudi truk namun tidak seluruhnya tercantum secara individual dalam manifest. Persoalan ini menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam evaluasi keselamatan pelayaran.
Api Muncul Saat Kapal Berada di Selat Lombok
KMP Putri Yasmin merupakan kapal motor penyeberangan yang dioperasikan PT Jemla Ferry pada lintasan Padangbai-Lembar.
Kapal berbendera Indonesia dengan IMO Number 9037575 tersebut memiliki bobot 1.790 GT dan panjang sekitar 62 meter. Kapal dibangun pada 1992.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, KMP Putri Yasmin bertolak dari Pelabuhan Padangbai sekitar pukul 02.00 WITA menuju Pelabuhan Lembar.
Sekitar pukul 04.15 WITA, ketika berada di perairan Selat Lombok, kapal mengalami kebakaran.
Informasi awal menyebut sumber api diduga berasal dari satu unit truk boks yang berada di dalam kapal. Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi karena penyebab pasti kebakaran masih harus dibuktikan melalui proses penyelidikan.
Awak kapal bersama penumpang sempat melakukan upaya pemadaman. Situasi kemudian berkembang menjadi operasi penyelamatan setelah sejumlah kapal dan unsur SAR bergerak menuju lokasi.
Sekitar pukul 04.45 WITA, Tim Rescue bergerak menuju Pelabuhan Lembar. Selanjutnya pukul 05.40 WITA, KN SAR 220 Mataram diberangkatkan menuju lokasi kejadian.
Operasi penyelamatan juga melibatkan unsur dari Bali setelah Kantor SAR Denpasar menerima pemberitahuan untuk menggerakkan alat utama SAR.
Kapal di Sekitar Lokasi Dikerahkan
KMP Portlink II yang berada di sekitar lokasi menjadi salah satu kapal yang pertama memberikan pertolongan.
Sekitar pukul 06.45 WITA, KMP Portlink II dilaporkan berhasil mengevakuasi 35 orang untuk dibawa menuju Bali.
Tidak berhenti di sana, berbagai unsur kemudian dikerahkan untuk melakukan evakuasi secara simultan.
Armada yang terlibat antara lain KN SAR 220 Mataram, KAL Lembar, kapal patroli Polairud Polda NTB, RIB Basarnas Mataram, RBB Basarnas, KMP Parama Kaliani, serta sejumlah kapal lain yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Bahkan kapal yacht dan kapal milik warga negara asing yang berada di kawasan tersebut ikut membantu penyelamatan penumpang.
Sekitar pukul 07.30 WITA, KN SAR Mataram tiba di lokasi kejadian. Informasi mengenai penumpang yang telah dievakuasi menggunakan beberapa kapal kemudian terus diperbarui.
KN SAR 220 Mataram akhirnya mengevakuasi 59 orang. Di antara mereka terdapat seorang warga negara Australia.
KAL Lembar membawa 18 korban selamat, sedangkan RBB Basarnas Mataram mengevakuasi 24 orang.
Kapal patroli Polairud Polda NTB membawa 25 orang, RIB Basarnas Mataram mengevakuasi 9 orang, sementara KMP Parama Kaliani membawa 39 korban selamat.
Sebanyak 35 orang sebelumnya dievakuasi KMP Portlink II menuju Bali.
Secara keseluruhan, data penanganan menyebut 177 orang dievakuasi menuju Lembar, sementara 35 lainnya dibawa ke arah Bali menggunakan KMP Portlink II.
Satu Penumpang Meninggal Dunia
Di tengah keberhasilan penyelamatan ratusan orang, operasi tersebut menyisakan kabar duka.
Sekitar pukul 11.00 WITA, kapal yacht Still Here tiba membawa tiga korban. Dua di antaranya dalam kondisi selamat, yakni Wahyuniati dan Renggra Restra yang merupakan Mualim II KMP Putri Yasmin.
Satu korban lainnya, Indah Dwi Septiani, dinyatakan meninggal dunia.
Dalam laporan akhir penanganan, korban tercatat sebagai penumpang perempuan asal Mataram yang berdomisili di Asrama Brimob Gatep, Ampenan.
Sementara itu, berdasarkan pemeriksaan dan informasi Balai Kesehatan Lembar, tidak tercatat adanya korban luka dalam kejadian tersebut.
Dengan demikian, dari total 212 orang yang dievakuasi, 211 dinyatakan selamat dan satu meninggal dunia.
Tujuh WNA Turut Terdampak
Insiden KMP Putri Yasmin juga melibatkan sejumlah warga negara asing.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat tujuh nama WNA yang tercatat dalam penanganan korban, yakni Scott Jeremy, Samuel Albertinus Dully, Samuelle Sulla, Mariska Hinke, Simon Rudolf Albert, Carlos Soares Acosta, dan Alejandra Marerro.
Salah satu WNA perempuan asal Australia tercatat berada dalam kelompok 59 orang yang dievakuasi KN SAR 220 Mataram. Seorang WNA Australia lainnya juga tercatat dalam kelompok yang dievakuasi menggunakan RBB.
Operasi penyelamatan melibatkan berbagai instansi, mulai dari Basarnas, TNI AL, Polairud Polda NTB, kepolisian kawasan Pelabuhan Lembar, PT JEMLA, PT ASDP, KSOP Lembar hingga unsur kapal sipil yang berada di sekitar lokasi.
79 Kendaraan Berada di Kapal
Selain membawa ratusan orang, KMP Putri Yasmin juga mengangkut puluhan kendaraan.
Data sementara mencatat terdapat 79 unit kendaraan, terdiri atas 57 kendaraan roda dua, empat kendaraan pribadi, lima kendaraan pikap dan 13 truk.
Besarnya jumlah kendaraan dan barang yang berada di kapal membuat nilai kerugian material akibat kebakaran belum dapat dipastikan.
Kerugian masih dalam proses pendataan, termasuk kondisi kendaraan, barang milik penumpang serta kerusakan terhadap kapal.
Penyelidikan juga perlu memastikan titik awal api dan mekanisme penyebarannya, termasuk menguji informasi awal yang menyebut kebakaran diduga bermula dari sebuah truk boks di dalam kapal.
Manifest dan Data Riil Berbeda 56 Penumpang
Selain penyebab kebakaran, salah satu catatan penting dalam kejadian ini adalah munculnya ketidaksesuaian data manifest dengan jumlah aktual penumpang.
Data yang dihimpun menyebut penumpang sesuai manifest tercatat 131 orang, sedangkan data riil korban mencapai 187 orang.
Artinya terdapat perbedaan sebanyak 56 orang.
Informasi sementara menyebut perbedaan terjadi karena pendataan penumpang, khususnya orang-orang yang berada di kendaraan truk, tidak seluruhnya tercantum secara individual dalam manifest.
Temuan tersebut tentunya memerlukan verifikasi lebih lanjut dari otoritas terkait. Manifest bukan sekadar dokumen administratif, tetapi merupakan instrumen penting dalam keselamatan pelayaran, terutama ketika terjadi kondisi darurat dan petugas harus memastikan jumlah serta identitas seluruh orang yang berada di atas kapal.
Karena itu, selain mengungkap penyebab kebakaran, evaluasi terhadap mekanisme pencatatan penumpang berpotensi menjadi bagian penting dari penanganan pascakejadian.
Menteri Perhubungan Tinjau Korban
Penanganan kecelakaan tersebut turut mendapat perhatian pemerintah pusat.
Sekitar pukul 18.00 WITA, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi mendatangi Pelabuhan Lembar untuk meninjau langsung penanganan para korban KMP Putri Yasmin.
Kedatangan Menteri Perhubungan disambut Gubernur NTB, Kabinda NTB, Danlanal Mataram serta jajaran terkait di Pelabuhan Lembar.
Setelah melakukan peninjauan, rombongan Menteri Perhubungan meninggalkan Pelabuhan ASDP Lembar sekitar pukul 18.59 WITA.
Sementara itu, operasi evakuasi dinyatakan selesai sekitar pukul 19.00 WITA. Seluruh rangkaian evakuasi dilaporkan berlangsung aman dan lancar.
KNKT Direncanakan Turun Selidiki Penyebab Kebakaran
Penyebab pasti kebakaran KMP Putri Yasmin hingga kini belum dapat disimpulkan.
Informasi awal yang menyebut api berasal dari truk boks masih membutuhkan pemeriksaan teknis dan pembuktian lebih lanjut.
Penyelidikan direncanakan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dengan pendampingan KSOP Lembar.
Pemeriksaan nantinya menjadi penting untuk mengetahui titik awal kebakaran, penyebab munculnya api, sistem penanganan keadaan darurat di atas kapal, kondisi alat keselamatan, proses evakuasi hingga persoalan manifest penumpang.
KMP Putri Yasmin sendiri merupakan salah satu kapal yang melayani jalur penyeberangan Padangbai, Bali-Lembar, Lombok, lintasan laut strategis yang setiap hari digunakan masyarakat maupun kendaraan logistik.
Tragedi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa akurasi manifest, kesiapan peralatan keselamatan, pengawasan muatan kendaraan serta respons cepat ketika keadaan darurat terjadi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keselamatan pelayaran.
Di tengah kobaran api di Selat Lombok, respons cepat kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi serta kerja bersama Basarnas, TNI AL, Polairud, kepolisian, otoritas pelabuhan dan unsur sipil berhasil menyelamatkan 211 jiwa.
Namun, meninggalnya Indah Dwi Septiani tetap menyisakan duka sekaligus pekerjaan besar bagi otoritas untuk memastikan penyebab kejadian terungkap secara terang.
Kini, penyelidikan menjadi tahap berikutnya. Tidak hanya untuk menjawab dari mana api berasal, tetapi juga mengurai mengapa terdapat perbedaan 56 orang antara manifest dengan data riil penumpang serta memastikan insiden serupa tidak kembali terjadi pada jalur penyeberangan Padangbai-Lembar.
(ElangBali/Tim)
Langsung ke konten







