banner 1080x250
banner 728x250

Air Mata di Balik Kesuksesan: Farhan Yudha Pratama, Anak Kintamani yang Mengangkat Derajat Orang Tua dari Negeri Qatar

Foto : Ist - Farhan Yudha Pratama Waktu di Jemput oleh Ibunya di International Airport I Gusti Ngurah Rai.

Kintamani – Dari sebuah sudut sederhana di Kampung Sudihati, Kintamani, Bangli, lahir kisah yang bukan hanya tentang kesuksesan, tetapi juga tentang cinta, pengorbanan, dan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Dialah Farhan Yudha Pratama, pemuda 25 tahun yang kini dikenal sebagai guru kaligrafi di Qatar, dengan lebih dari 11,5 ribu pengikut di Instagram sebuah angka yang mencerminkan perjalanan dan inspirasi yang ia bagikan kepada dunia.

Namun, di balik pencapaian itu, tersimpan cerita panjang yang penuh haru.

banner 728x250

Farhan adalah anak pertama dari pasangan Fitri dan Widodo. Sejak kecil, ia tumbuh dalam kesederhanaan. Ibunya, Ibu Fitri, adalah sosok perempuan tangguh yang selama lebih dari 20 tahun berjualan sate dan gulai kambing di Kintamani, dikenal dengan nama “Dewi Sulung Kintamani”. Dari tangan yang setiap hari membakar sate di bawah asap dan panas, mengalirlah doa-doa yang tak pernah putus untuk masa depan anaknya.

 

Tak ada kemewahan dalam hidup Farhan saat itu. Yang ada hanyalah kerja keras, kesabaran, dan harapan besar dari seorang ibu.

Sejak menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor Kampus 2, Ponorogo, Jawa Timur, Farhan mulai menunjukkan sinarnya. Ia dikenal sebagai santri jempolan—disiplin, cerdas, dan penuh semangat belajar. Bahkan, selama menempuh pendidikan hingga lulus pada tahun 2017, ia selalu mendapatkan beasiswa. Di balik prestasinya, ada perjuangan yang tak terlihat—rindu rumah, keterbatasan, dan tekad kuat untuk tidak mengecewakan orang tua.

Waktu pun berlalu, dan takdir membawanya lebih jauh. Kini, Farhan telah mengabdi selama empat tahun sebagai guru kaligrafi di Qatar. Di negeri orang, ia hidup mandiri, bekerja dengan penuh dedikasi, dan menikmati hasil dari jerih payahnya dengan penghasilan yang terbilang fantastis.

Namun, yang membuat kisah ini begitu menyentuh bukanlah soal gaji atau popularitasnya di media sosial.

Melainkan tentang hatinya yang tidak pernah berubah.

Di tengah gemerlap kehidupan luar negeri, Farhan tetap menjadi anak yang sederhana, patuh, dan penuh cinta. Ia tak pernah lupa dari mana ia berasal. Setiap hasil kerja kerasnya, ia kirimkan untuk sang ibu di Kintamani—perempuan yang telah mengorbankan hidupnya demi masa depan anaknya.

Bagi Farhan, kesuksesan bukan tentang seberapa tinggi ia berdiri, tetapi tentang seberapa besar ia mampu membalas perjuangan orang tuanya.

Ibu Fitri pun tak kuasa menahan haru saat menceritakan anaknya. Baginya, Farhan bukan hanya kebanggaan, tetapi juga jawaban dari doa-doa panjang yang ia panjatkan setiap hari di sela-sela kesibukannya berjualan.

Kisah Farhan Yudha Pratama adalah pengingat yang begitu dalam: bahwa di balik setiap anak yang sukses, ada air mata, doa, dan perjuangan orang tua yang sering tak terlihat. Dan di balik kesuksesan sejati, selalu ada hati yang tetap pulang—kepada keluarga.

Dari Kintamani ke Qatar, Farhan tidak hanya membawa nama Bali. Ia membawa cinta seorang anak, yang tak pernah putus untuk orang tuanya.

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250