Badung – Semangat ngayah, gotong royong, dan kebersamaan krama Desa Adat Ungasan kembali terlihat dalam pelaksanaan Puncak Karya Nyawa Wedana Utama yang digelar di Wantilan Nusa Bangsul, Desa Adat Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Minggu (31/5). Karya massal yang terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2017 ini kembali digelar sebagai bentuk pelayanan adat dan keagamaan untuk meringankan beban masyarakat dalam menjalankan kewajiban yadnya kepada leluhur.
Pelaksanaan karya tersebut mendapat perhatian langsung dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa yang hadir bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti untuk mengikuti sekaligus menjadi upasaksi dalam rangkaian upacara suci tersebut.
Karya Nyawa Wedana Utama tahun ini diikuti sebanyak 256 peserta, terdiri dari 56 sawa ngaben, 135 peserta nyekah (Atma Wedana), dan 65 peserta metatah. Selain Atma Wedana, rangkaian upacara juga meliputi memukur, nilapati hingga ngingkup agung yang menjadi bagian penting dalam tradisi Hindu Bali sebagai penghormatan kepada leluhur.
Dalam sambutannya, Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh krama Desa Adat Ungasan yang telah menunjukkan semangat ngayah dan persatuan dalam menyukseskan karya besar tersebut. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan yadnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial, tetapi juga oleh kekuatan kebersamaan dan ketulusan masyarakat dalam bergotong royong.
“Bertepatan dengan Rahina Purnama ini, saya menghaturkan rasa syukur dan terima kasih ke hadapan Ida Bhatara-Bhatari yang berstana di Kahyangan Tiga Desa Adat Ungasan. Saya merasa berbahagia dapat hadir sekaligus upasaksi pelaksanaan karya yang dilandasi semangat ngayah dan kebersamaan seluruh krama desa adat. Semoga seluruh masyarakat senantiasa diberikan kerahayuan, keharmonisan, serta kesejahteraan sekala dan niskala,” ujar Adi Arnawa.
Ia menegaskan, nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan leluhur Bali masih terjaga dengan baik di tengah perkembangan zaman. Semangat sagilik-saguluk, salunglung sabayantaka dinilai menjadi pondasi kuat yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat adat hingga saat ini.
Lebih lanjut, Bupati Adi Arnawa menilai pelaksanaan karya yadnya juga memiliki makna strategis sebagai sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Menurutnya, tradisi seperti metatah dan rangkaian upacara lainnya bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga media pembelajaran tentang tanggung jawab, pengabdian, penghormatan kepada leluhur, serta pelestarian budaya Bali yang adi luhung.
“Metatah bukan hanya sebuah upacara. Di dalamnya terkandung nilai pengabdian, penghormatan kepada leluhur, pendidikan karakter, dan tanggung jawab untuk melanjutkan warisan budaya yang luhur. Nilai-nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi muda agar jati diri masyarakat Bali tetap terjaga,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat Kuta Selatan. Salah satunya adalah pembangunan Jalan Lingkar Barat serta jalan tembus dari kawasan Universitas Udayana menuju Ungasan yang saat ini masih dalam proses perencanaan dan pengkajian.
Menurutnya, proyek tersebut menjadi solusi strategis untuk mengurai kemacetan yang selama ini kerap terjadi di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan sekitarnya.
“Pemkab Badung berkomitmen menghadirkan pembangunan yang tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Infrastruktur yang dibangun harus mampu mendukung aktivitas sosial, ekonomi, budaya, maupun kehidupan adat masyarakat secara berkelanjutan. Untuk Kuta Selatan saat ini sedang berproses pembangunan Jalan Lingkar Barat dan jalan tembus dari Unud menuju Ungasan guna mengatasi kemacetan di kawasan GWK. Kami mohon doa restu seluruh krama agar proses ini berjalan lancar dan segera bisa dimanfaatkan bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang selama ini diberikan Pemerintah Kabupaten Badung kepada masyarakat Kuta Selatan, baik dalam bidang pembangunan maupun pelestarian adat dan budaya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Badung yang selalu hadir dan memberikan perhatian kepada masyarakat Kuta Selatan. Kami melihat adanya komitmen yang kuat dari pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan serta pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Disel Astawa juga mengajak seluruh krama untuk terus menjaga kekompakan hingga seluruh rangkaian karya selesai dilaksanakan. Menurutnya, keberhasilan Karya Nyawa Wedana Utama merupakan hasil kerja bersama seluruh masyarakat Desa Adat Ungasan yang tetap memegang teguh nilai gotong royong dan kebersamaan.
“Keberhasilan karya ini adalah keberhasilan seluruh krama Desa Adat Ungasan. Semangat ngayah dan gotong royong warisan leluhur harus terus dijaga sebagai kekuatan utama dalam membangun desa adat yang maju, harmonis, dan sejahtera,” katanya.
Puncak Atma Wedana dipuput oleh tujuh sulinggih dan didukung pendanaan secara swadaya melalui kontribusi Desa Adat Ungasan, dana punia masyarakat, serta dukungan sejumlah pengusaha setempat. Kehadiran ratusan krama dan tokoh masyarakat dalam karya tersebut menjadi bukti kuat bahwa tradisi, adat, dan nilai kebersamaan tetap menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Bali di tengah pesatnya pembangunan dan perkembangan pariwisata.
( dd99 )
Langsung ke konten







