banner 1080x250
banner 728x250

Duka dari Guyana, PMI Asal Jembrana Gugur dalam Kecelakaan Maut Saat Menuju Tempat Kerja

Foto - Amor Ing Acintya, PMI Asal Jembrana Gugur dalam Kecelakaan Maut di Guyana.

EMBRANA – Perjalanan mencari nafkah jauh dari tanah kelahiran berakhir menjadi kabar duka. I Komang Tedy Arsa Bantara Putra, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali, meninggal dunia setelah menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Guyana,South America.

Kabar kepergian Komang Tedy meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat di kampung halamannya. Ia berangkat membawa harapan untuk bekerja dan memperjuangkan masa depan, tetapi takdir berkata lain. Perjalanan yang seharusnya mengantarkannya menuju tempat kerja justru menjadi perjalanan terakhirnya.

banner 728x250

Amor Ing Acintya.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di Jalan Raya Timehri, Guyana, pada Jumat (27/8/2026) dini hari waktu setempat. Komang Tedy diketahui bekerja di sektor offshore dan baru kembali ke Guyana untuk menjalani periode kerja keduanya.

Menurut informasi yang diterima Pemerintah Desa Perancak, korban berangkat dari Indonesia pada 26 Agustus 2026. Setelah menempuh perjalanan panjang hingga tiba di Guyana, ia bersama sejumlah pekerja lainnya dijemput menggunakan kendaraan travel perusahaan dari bandara untuk menuju lokasi kerja.

Tidak ada yang menyangka perjalanan darat tersebut akan berubah menjadi tragedi.

Di tengah perjalanan, kendaraan yang membawa rombongan pekerja mengalami kecelakaan hebat yang melibatkan tiga kendaraan. Benturan keras dalam insiden tersebut merenggut nyawa dua warga negara Indonesia.

Selain I Komang Tedy Arsa Bantara Putra, seorang PMI lainnya bernama Edy Ansyori Sukri juga dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.

Dua anak bangsa yang datang jauh ke negeri orang untuk bekerja dan mencari penghidupan harus mengakhiri perjalanan hidup mereka ribuan kilometer dari Indonesia.

Berangkat untuk Kedua Kalinya, Pulang Tinggal Nama

Perbekel Perancak, I Nyoman Wijana, membenarkan kabar meninggalnya Komang Tedy setelah Pemerintah Desa Perancak menerima laporan mengenai musibah yang menimpa warganya.

Menurut Wijana, keberangkatan kali ini merupakan periode kedua Komang Tedy bekerja di sektor offshore. Ia berangkat pada 26 Agustus 2026 dan sesampainya di bandara dijemput kendaraan yang akan membawanya menuju tempat kerja.

“Yang bersangkutan berangkat untuk yang kedua kalinya pada 26 Agustus 2026 ke kapal offshore. Sampai di bandara dijemput mobil travel menuju tempat kerja, lalu mengalami kecelakaan,” ujar Wijana, Minggu (30/8/2026).

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa cepat keadaan berubah.

Keberangkatan yang semula diiringi harapan kini berubah menjadi penantian keluarga agar jenazah orang yang mereka cintai dapat segera kembali ke tanah kelahiran.

Bagi keluarga, jarak Guyana dan Bali kini terasa semakin jauh. Mereka tidak sedang menunggu kepulangan seorang pekerja yang selesai menjalankan tugas, melainkan menunggu kepulangan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Desa Dampingi Keluarga Urus Pemulangan Jenazah

Pemerintah Desa Perancak kini terus melakukan pendampingan terhadap keluarga Komang Tedy. Berbagai dokumen dan persyaratan administrasi dipersiapkan untuk mendukung proses repatriasi jenazah dari Guyana menuju Indonesia.

Proses tersebut tidak sederhana karena melibatkan koordinasi lintas negara dan sejumlah pihak terkait. Terlebih, kecelakaan masih dalam penanganan dan penyelidikan otoritas setempat.

Keluarga hanya dapat menunggu setiap perkembangan sembari berharap seluruh proses berjalan lancar sehingga jenazah Komang Tedy dapat segera diterbangkan kembali ke Indonesia dan dibawa menuju rumah duka di Jembrana.

Di tengah kesedihan itu, Pemerintah Desa Perancak berupaya hadir mendampingi keluarga agar persoalan administrasi tidak menjadi beban tambahan dalam suasana berkabung.

Pergi Membawa Harapan, Kembali dalam Keabadian

Kisah Komang Tedy menjadi potret getir perjuangan pekerja migran Indonesia.

Mereka meninggalkan rumah, keluarga, sahabat, dan kampung halaman untuk bekerja ribuan kilometer jauhnya. Di balik keberanian mengadu nasib di negeri orang, selalu ada keluarga yang menunggu kepulangan mereka.

Komang Tedy pun berangkat dengan sebuah tujuan: bekerja.

Ia kembali menjalani periode keduanya di sektor offshore, sebuah pekerjaan yang membawanya jauh melintasi negara dan benua. Namun, bahkan sebelum kembali memulai aktivitas kerjanya, kecelakaan maut merenggut hidupnya.

Tidak pernah ada keluarga yang siap menerima kabar seperti ini.

Kepulangan yang seharusnya kelak disambut dengan pertemuan dan pelukan kini berubah menjadi kepulangan yang diselimuti air mata.

Rumah di Perancak kini menunggu.

Bukan lagi menunggu Komang Tedy pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya, melainkan menunggu jasadnya kembali agar keluarga dapat memberikan penghormatan terakhir sesuai adat, keyakinan, dan tradisi di tanah kelahirannya.

Tragedi di Guyana juga meninggalkan duka bagi keluarga Edy Ansyori Sukri. Dua WNI menjadi korban jiwa dalam satu perjalanan menuju tempat mereka mengais rezeki.

Kini harapan keluarga hanya satu: proses penyelidikan dan administrasi di Guyana dapat segera diselesaikan, sehingga kedua jenazah dapat secepatnya dipulangkan ke Indonesia.

Bagi keluarga Komang Tedy di Jembrana, setiap hari penantian tentu terasa panjang. Namun, mereka masih menunggu kepulangan terakhir seorang anak, saudara, dan bagian dari keluarga yang pergi membawa harapan dari Bali menuju negeri yang sangat jauh.

Ia pergi untuk bekerja.

Ia pergi membawa harapan.

Namun takdir membuatnya tak sempat kembali seperti yang direncanakan.

Selamat jalan, I Komang Tedy Arsa Bantara Putra. Amor Ing Acintya. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan menghadapi kehilangan yang begitu mendalam.

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250