GIANYAR — Sinergi lintas institusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional ditunjukkan di Bali. Gubernur Bali Wayan Koster bersama Kapolda Bali Irjen. Pol. Daniel Adityajaya, S.H., S.I.K., M.Si., unsur Kodam IX/Udayana, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, jajaran pemerintah daerah serta pemangku kepentingan terkait mendukung Gerakan Serentak Penanaman Bawang Putih yang diinisiasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui aksi penanaman bawang putih serentak di Banjar Kelodan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Rabu (19/8/2026). Kegiatan di Bali berlangsung bersamaan dengan gerakan nasional yang dipusatkan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan terhubung melalui sambungan virtual.
Di Gianyar, Gubernur Wayan Koster bersama Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya, jajaran Polda Bali, unsur Kodam IX/Udayana, Kejati Bali, organisasi perangkat daerah (OPD), serta unsur terkait lainnya ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Secara simbolis, bibit bawang putih ditanam di lahan seluas 30 are yang dikelola Kelompok Susbal Kumba, Banjar Kelodan.
Kehadiran unsur pemerintah daerah bersama Polri, TNI dan Kejaksaan tersebut menjadi gambaran kuat bahwa agenda ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Persoalan pangan tidak semata-mata menjadi urusan sektor pertanian, melainkan bagian dari kepentingan strategis yang menyangkut stabilitas ekonomi, kesejahteraan petani hingga ketahanan nasional.
Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan dukungannya terhadap gerakan tersebut.
“Bagus sekali aksi ini. Saya tentu mendukung,” kata Koster.
Menurut Koster, penguatan produksi bawang putih memiliki arti penting bagi Bali. Komoditas tersebut menjadi salah satu bagian yang perlu diperkuat dalam mendorong kemandirian dan swasembada pangan daerah.
Dukungan terhadap peningkatan produksi juga diharapkan dapat memberikan dampak langsung kepada petani. Ketika produktivitas meningkat dan pasar hasil panen terjamin, sektor pertanian berpeluang semakin kuat sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat.
Sinergi Pemprov Bali, Polda, Kodam IX/Udayana dan Kejati Bali
Gerakan di Tampaksiring menunjukkan semangat kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Bali, Polda Bali, Kodam IX/Udayana dan Kejati Bali dalam mendukung agenda strategis pemerintah pusat.
Keterlibatan berbagai institusi tersebut memiliki makna penting karena mewujudkan swasembada pangan memerlukan kerja yang terintegrasi.
Mulai dari penyediaan dan optimalisasi lahan, pengembangan bibit unggul, pemanfaatan teknologi pertanian, ketersediaan pupuk, sarana produksi, pendampingan kepada petani hingga kepastian pasar harus berjalan dalam satu ekosistem.
Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya bersama jajaran Polda Bali mengambil bagian dalam gerakan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Polri dalam membantu pemerintah memperkuat ketahanan pangan.
Sementara kehadiran unsur Kodam IX/Udayana dan Kejati Bali semakin memperlihatkan bahwa penguatan pangan merupakan kepentingan bersama yang membutuhkan sinergi lintas kelembagaan.
Kolaborasi tersebut juga membawa pesan bahwa menjaga stabilitas suatu daerah tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan penegakan hukum. Ketahanan pangan yang kuat, distribusi yang terjaga serta kemampuan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang stabil turut menjadi fondasi terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera.
279,53 Hektare Ditanami di 17 Wilayah Polda
Secara nasional, Gerakan Serentak Penanaman Bawang Putih menjadi bagian dari strategi Polri dalam mendukung pemerintah meningkatkan produksi pangan dari sektor hulu hingga hilir.
Penanaman serentak dilakukan pada lahan seluas 279,53 hektare yang tersebar di 17 wilayah Kepolisian Daerah.
Kegiatan yang dipusatkan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB, tersebut berhasil mencatatkan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai “Penanaman Bawang Putih secara Serentak di Lahan Terluas.”
Secara nasional, penanaman tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 2.795 ton bawang putih.
Tidak berhenti pada lahan yang telah ditanami, Polri juga mengidentifikasi potensi pengembangan lahan bawang putih hingga mencapai 2.593,1 hektare yang tersebar di wilayah 17 Polda.
Besarnya potensi tersebut menunjukkan peluang peningkatan produksi bawang putih nasional masih sangat terbuka apabila didukung dengan perencanaan dan pendampingan yang berkelanjutan.
Sembalun Berkembang dari 15 Menjadi 534 Hektare
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian dalam pengembangan bawang putih adalah Kecamatan Sembalun.
Perkembangan luas pertanaman di kawasan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2025, luas pertanaman bawang putih tercatat sekitar 15 hektare. Kini luas pengembangannya telah mencapai 534 hektare.
Peningkatan tersebut menjadi gambaran bagaimana pengembangan komoditas pangan dapat dilakukan secara lebih masif apabila terdapat dukungan terhadap petani dan ketersediaan sarana produksi.
Namun, peningkatan luas tanam bukan satu-satunya target. Program tersebut juga diarahkan untuk membangun ekosistem produksi bawang putih secara menyeluruh agar peningkatan luas lahan berbanding lurus dengan produktivitas serta kesejahteraan petani.
Kembangkan Sangga Sembalun dan Lumbu Putih
Pada sektor hulu, pengembangan kualitas bibit menjadi salah satu perhatian.
Polri bekerja sama dengan kelompok tani mengembangkan varietas bawang putih, antara lain Sangga Sembalun dan Lumbu Putih.
Varietas tersebut diharapkan mampu beradaptasi pada kawasan dengan ketinggian di bawah 1.000 meter di atas permukaan laut.
Pengembangan varietas yang mampu beradaptasi dengan karakteristik wilayah berbeda memiliki arti strategis karena dapat membuka kemungkinan munculnya sentra-sentra produksi baru.
Semakin luas wilayah yang cocok untuk budidaya, semakin besar pula peluang meningkatkan produksi bawang putih nasional secara berkelanjutan.
90 Unit Traktor hingga Pompa Air Tenaga Surya
Dukungan kepada petani juga diberikan dalam bentuk berbagai sarana produksi pertanian.
Sebanyak 90 unit traktor tangan dan traktor roda empat disalurkan untuk mendukung pengolahan lahan. Selain itu, tersedia pula bantuan pompa air tenaga surya dan belasan ton pupuk.
Modernisasi sarana pertanian diharapkan dapat meningkatkan efektivitas kerja petani, menekan biaya produksi serta meningkatkan produktivitas.
Dukungan sarana tersebut menjadi penting karena peningkatan produksi tidak cukup hanya dengan memperluas lahan. Petani juga membutuhkan teknologi dan peralatan yang memungkinkan proses pengolahan tanah, penanaman hingga pemeliharaan dilakukan secara lebih efektif.
Gudang 300 Ton dan Kepastian Pasar
Program pengembangan bawang putih juga menyentuh persoalan yang selama ini menjadi tantangan bagi petani, yakni penanganan pascapanen dan kepastian pasar.
Untuk mendukung sektor hilir, disiapkan infrastruktur berupa gudang dengan kapasitas sekitar 300 ton. Nilai pembangunan fasilitas tersebut mencapai sekitar Rp1,4 miliar.
Keberadaan gudang diharapkan dapat mendukung penyimpanan hasil panen sekaligus menjaga kualitas bawang putih sebelum didistribusikan ke pasar.
Hasil produksi nantinya direncanakan diserap Bulog. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus membantu menjaga stabilitas harga.
Sebagian hasil panen juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai benih untuk musim tanam berikutnya.
Dengan demikian, ekosistem yang dibangun mencakup seluruh tahapan, mulai dari pengembangan bibit, pengolahan lahan, produksi, panen, penyimpanan hingga penyerapan hasil pertanian.
Kapolri: Ini Tantangan Kita Bersama
Gerakan nasional penanaman bawang putih tersebut dihadiri langsung Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa pengembangan produksi bawang putih dalam negeri merupakan bagian dari tantangan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto.
“Bapak Presiden Prabowo Subianto memerintahkan hal yang sama, ini menjadi tantangan bagi kita semua apakah kita bisa melaksanakan tugas tersebut,” ujar Sigit.
Menurut Kapolri, dibutuhkan kolaborasi dari sektor hulu hingga hilir untuk meningkatkan produksi bawang putih nasional.
Peningkatan produksi diharapkan dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memberikan dampak ekonomi yang semakin besar kepada petani dalam negeri.
Dari Tampaksiring untuk Ketahanan Pangan Nasional
Bagi Provinsi Bali, gerakan penanaman bawang putih di Tampaksiring memiliki nilai strategis karena menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.
Bali selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia. Namun, ketangguhan perekonomian daerah juga membutuhkan sektor pertanian yang produktif, mandiri dan berkelanjutan.
Karena itu, penguatan komoditas pangan strategis menjadi penting agar kebutuhan masyarakat dapat semakin banyak dipenuhi melalui produksi dalam negeri.
Sinergi yang diperlihatkan Gubernur Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya, Kodam IX/Udayana, Kejati Bali, pemerintah daerah serta kelompok tani menjadi gambaran bahwa ketahanan pangan membutuhkan kerja bersama.
Gerakan penanaman bawang putih di Gianyar juga diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperluas produksi, meningkatkan produktivitas petani dan membangun sistem pertanian yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.
Ketika lahan tersedia, bibit berkualitas dikembangkan, teknologi dan alat pertanian diberikan, hasil panen memiliki tempat penyimpanan serta pasar memberikan kepastian penyerapan, maka jalan menuju swasembada pangan menjadi semakin terbuka.
Dari lahan seluas 30 are di Banjar Kelodan, Tampaksiring, semangat tersebut ikut ditanam bersama bibit-bibit bawang putih: semangat kolaborasi pemerintah, Polri, TNI, Kejaksaan dan petani untuk memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Gerakan ini sekaligus menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. Melalui sinergi Pemprov Bali, Polda Bali, Kodam IX/Udayana, Kejati Bali dan seluruh pemangku kepentingan, Bali mengambil bagian dalam agenda besar nasional menuju Indonesia yang semakin kuat, mandiri dan berdaulat dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
( dd99 )
Langsung ke konten







