Manggis – Suasana khidmat dan penuh kedamaian menyelimuti Pura Galuh di Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, saat umat Hindu melaksanakan persembahyangan pada Hari Raya Galungan, Rabu (17/6/2026). Sejak pagi hari, para pemedek berdatangan dengan mengenakan busana adat Bali untuk menghaturkan bakti dan doa sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan Dharma melawan Adharma yang menjadi makna utama Hari Raya Galungan.
Pura Galuh merupakan salah satu pura penting dan disakralkan oleh masyarakat Desa Adat Sengkidu. Pura yang juga dikenal dengan sebutan Pura Paneduhan ini memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat karena diyakini sebagai tempat memohon keselamatan, perlindungan, kesejahteraan, dan keteduhan hidup.
Keberadaan Pura Galuh tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Nama “Galuh” berasal dari gelar Betara Istri Ayu Galuh, sosok yang dipercaya memiliki kewibawaan, kecantikan, serta kemuliaan. Dalam pengertian budaya Bali, kata “Galuh” bermakna intan berlian, simbol kemurnian, keagungan, dan cahaya kebijaksanaan. Betara Istri Ayu Galuh diyakini sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang senantiasa mengayomi dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Karena keyakinan tersebut, Pura Galuh menjadi salah satu pusat spiritual yang memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam sekitarnya. Nilai-nilai inilah yang terus dijaga oleh krama Desa Adat Sengkidu sebagai bagian dari implementasi filosofi Tri Hita Karana yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali.
Berdasarkan Awig-Awig Desa Adat Sengkidu, piodalan di Pura Galuh dilaksanakan setiap Tileming Kasanga atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Piodalan tersebut biasanya dirangkaikan dengan pelaksanaan Tawur Kesanga dan berbagai prosesi sakral lainnya yang memiliki makna penyucian alam semesta serta upaya menjaga keseimbangan antara kekuatan sekala dan niskala.
Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, kawasan Pura Galuh juga memiliki nilai historis yang masih dikenang oleh masyarakat hingga saat ini. Pada Juli 2022, pohon Tehep keramat yang telah berusia ratusan tahun di areal pura mengalami kebakaran. Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian publik karena pohon tersebut dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat. Namun berkat kerja sama warga dan upaya penyelamatan yang cepat, bangunan utama pura beserta seluruh palinggih yang ada di dalamnya berhasil diselamatkan sehingga kesucian pura tetap terjaga.
Pura Galuh juga menjadi pusat berbagai aktivitas adat yang berlangsung sepanjang tahun. Pada malam Pangerupukan menjelang Hari Raya Nyepi, kawasan sekitar pura sering menjadi bagian penting dari rangkaian tradisi adat yang diwarnai dengan pawai Ogoh-Ogoh serta ritual-ritual sakral yang sarat makna spiritual. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi simbol pembersihan diri dan lingkungan dari pengaruh negatif, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Momentum Hari Raya Galungan tahun ini kembali menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan warisan leluhur yang mereka miliki. Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak maju, keberadaan Pura Galuh tetap menjadi sumber kekuatan spiritual, identitas budaya, dan pemersatu masyarakat Desa Sengkidu.
Melalui persembahyangan yang dilaksanakan pada Hari Raya Galungan, umat Hindu memanjatkan doa agar senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, kedamaian, serta kemampuan untuk terus menegakkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Pura Galuh tidak hanya berdiri sebagai bangunan suci, tetapi juga sebagai simbol keteduhan, perlindungan, dan kebijaksanaan yang terus menerangi perjalanan hidup masyarakat Desa Sengkidu dari masa ke masa.
( dd99 )
Langsung ke konten







