Canggu – Semangat kreativitas dan kebanggaan budaya kembali terpancar dari Desa Adat Canggu melalui karya ogoh-ogoh yang sarat makna dari ST. Yowana Wreksa Asti Banjar Kayutulang. Di bawah kepemimpinan I Made Fajar Wyantara Satya, para pemuda banjar menghadirkan sebuah karya yang bukan hanya megah secara visual, tetapi juga dalam secara filosofi, bertajuk “Tanpo Arah.”
Ogoh-ogoh ini menggambarkan sosok Anak Gede Selem—sebuah representasi simbolik dari generasi muda yang sejatinya memiliki kekuatan besar, potensi luar biasa, dan energi yang tak terbatas. Namun di sisi lain, sosok ini juga mencerminkan realitas yang kerap terjadi: kebingungan arah, kegelisahan batin, serta kehilangan tujuan dalam menjalani kehidupan. Dalam visual yang kuat dan penuh ekspresi, “Tanpo Arah” menjadi cerminan bahwa kekuatan yang tidak diarahkan dengan bijak dapat meredup, bahkan menghilang tanpa makna.
Karya ini bukan sekadar patung ritual, melainkan sebuah pesan mendalam bagi generasi muda. Bahwa di tengah derasnya arus zaman, godaan, dan tantangan kehidupan modern, penting untuk mampu mengenali jati diri. Menghadapi kegelapan batin bukan untuk dihindari, melainkan untuk dipahami dan dilampaui. Dari sanalah, potensi sejati akan bangkit menjadi tindakan nyata yang memberi arti, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan dan budaya.
“Tanpo Arah” juga mengajak kita semua untuk merenung. Bahwa dalam keheningan, manusia menemukan makna terdalam kehidupan. Dalam diam, kita belajar memahami siapa diri kita sebenarnya. Sejalan dengan makna Hari Raya Nyepi, karya ini menjadi simbol perjalanan spiritual—dari kegelisahan menuju kesadaran, dari kegelapan menuju cahaya.
Dengan penuh rasa bangga, ogoh-ogoh ini menjadi bukti bahwa generasi muda Desa Adat Canggu tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkannya dengan pemikiran kritis, reflektif, dan penuh nilai. Sebuah karya yang menginspirasi, menggugah, sekaligus menguatkan jati diri budaya Bali di tengah perubahan zaman.
Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Dalam hening, kita menemukan makna. Dalam diam, kita memahami kehidupan.
( dd99 )
Langsung ke konten







