banner 1080x250
banner 728x250

Tangis Dokter Senior RS Tabanan: 26 Tahun Mengabdi, Kini Obat Habis dan Pasien Terancam, Rumah Sakit Mau Dibawa ke Mana

 

Tabanan – Suara keprihatinan yang dalam terdengar dari seorang dokter senior di Rumah Sakit Tabanan. Lewat sebuah pesan suara yang disampaikan di grup internal manajemen rumah sakit, dokter spesialis saraf yang telah mengabdi selama 26 tahun itu menumpahkan kegelisahan hatinya. Ia mempertanyakan arah dan nasib pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut setelah satu per satu obat di depo dilaporkan habis.

banner 728x250

Dokter yang memperkenalkan diri sebagai Dokter Ayu itu menyampaikan pesan dengan nada lirih namun penuh ketegasan. Ia mengaku baru pertama kali merasakan kondisi pelayanan kesehatan yang begitu memprihatinkan sepanjang puluhan tahun mengabdi.

“Selamat pagi kepada para direksi dan manajemen yang ada di WA Group ini. Maafkan saya memakai voice note supaya intonasi suara saya bisa didengar dengan jelas. Mohon maaf sebelumnya, saya ingin bertanya: rumah sakit ini mau dibawa ke mana?” ucapnya.

Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini sangat memukul para tenaga medis. Obat-obatan yang seharusnya tersedia untuk pasien justru satu per satu dilaporkan habis di depo farmasi rumah sakit. Bahkan, disebutkan salah satu obat penting yang terakhir tidak tersedia adalah City Collin, yang diduga tidak lagi dipasok karena tunggakan pembayaran rumah sakit kepada distributor.

Situasi tersebut membuat para dokter berada dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi mereka berkewajiban memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, namun di sisi lain fasilitas dasar berupa obat-obatan justru tidak tersedia.

“Obat satu per satu sudah tidak ada di depo karena kita tidak membayar. Kemungkinan utang kita terlalu banyak. Sekarang yang terakhir City Collin juga tidak ada. Sedangkan kami tidak boleh mengatakan kepada pasien bahwa obat tidak tersedia,” ungkapnya dengan nada penuh keprihatinan.

Bagi dokter yang telah puluhan tahun mengabdi, kondisi ini bukan sekadar persoalan administrasi atau keuangan. Ini adalah persoalan kemanusiaan dan tanggung jawab moral terhadap pasien yang sudah mempercayakan nyawa mereka kepada rumah sakit.

“Berikan saya kesempatan menumpahkan isi hati saya. Saya dokter paling senior saat ini di Rumah Sakit Tabanan, sudah 26 tahun bekerja di sini. Baru kali ini saya merasakan situasi seperti sekarang ini,” katanya.

Ia mengaku tidak ingin mengetahui siapa yang salah atau apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Yang ia pikirkan hanyalah nasib pasien yang sudah telanjur dirawat dan menggantungkan harapan pada pelayanan rumah sakit.

“Yang saya ingin tahu adalah bagaimana pelayanan terhadap pasien yang sudah ada di rumah sakit ini. Mereka sudah terlanjur dirawat, sudah masuk ke rumah kita ini. Lalu bagaimana kita melayani mereka?” lanjutnya.

Dengan nada tegas namun penuh kesedihan, dokter tersebut bahkan siap menerima sanksi apabila suaranya dianggap melampaui batas.

“Kalau saya salah, silakan berikan saya punishment. Apa pun hukuman untuk saya sebagai dokter senior di sini, silakan. Tapi jiwa saya masih bersatu untuk pasien. Jiwa saya untuk pasien. Pelayanan adalah nomor satu bagi kami,” tegasnya.

Ia meminta pihak manajemen rumah sakit segera memberikan jawaban dan solusi nyata agar para dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien (DPJP) dapat menjalankan tugas mereka dengan baik.

“Tolong berikan jawaban terbaik hari ini. Bagaimana pemecahan terbaik untuk pasien-pasien kita di Rumah Sakit Tabanan ini,” tutupnya.

Kondisi yang diungkapkan dokter senior tersebut langsung menuai perhatian dari sejumlah tokoh masyarakat. Salah satunya tokoh masyarakat Tabanan, Gde Putra, yang menyampaikan kritik keras namun tetap santun terhadap kondisi tersebut.

Menurutnya, situasi ini menunjukkan adanya masalah serius dalam pengelolaan rumah sakit.

“Motto Jayaning Singgasana seharusnya menjadi semangat pelayanan yang kuat. Tetapi jika sampai obat-obatan di rumah sakit habis seperti ini, maka semangat itu seolah tidak terbukti,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Denpasar juga menilai persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia menegaskan bahwa kepala daerah harus turun tangan menyelesaikan persoalan mendasar yang menyangkut pelayanan kesehatan masyarakat.

“Bupati Tabanan harus segera menyelesaikan masalah obat yang sudah habis di rumah sakit. Kenapa bisa sampai habis? Artinya pengawasan dan manajemen rumah sakit sudah tidak berjalan dengan baik,” katanya.

Menurutnya, rumah sakit daerah adalah garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Jika persoalan obat saja tidak dapat dipastikan ketersediaannya, maka yang paling dirugikan adalah masyarakat sebagai pasien.

Situasi ini kini menjadi sorotan serius karena menyangkut hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Harapan besar kini tertuju kepada pemerintah daerah dan manajemen rumah sakit untuk segera mengambil langkah konkret agar pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Tabanan tidak semakin terpuruk.

Catatan Redaksi:
Media ini menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab bagi semua pihak sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan atau ingin memberikan klarifikasi, redaksi membuka ruang hak jawab secara proporsional.

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250