banner 1080x250
banner 728x250

BASIS Bali dan Balawista Indonesia Gelar Basic Pool Rescue Training, Bekali Security Keterampilan Penyelamatan

Foto - BASIS Bali–Balawista Gembleng 37 Peserta Hotel dan Beach Club Lewat Basic Pool Rescue Training.

BADUNG – Basis Keamanan dan Keselamatan Bali (BASIS Bali) bekerja sama dengan Balawista Indonesia menggelar Basic Pool Rescue Training selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 19–20 September 2026, bertempat di Kolam Renang Tirta Yasa, Desa Mambal, Kabupaten Badung.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan sumber daya manusia di bidang keamanan dan keselamatan, khususnya personel security yang bertugas di hotel maupun fasilitas pariwisata. Mereka tidak hanya dituntut mampu menjaga keamanan, tetapi juga diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam memberikan respons awal ketika terjadi kecelakaan atau kondisi darurat.

banner 728x250

Pembukaan Basic Pool Rescue Training pada Sabtu (19/9/2026) dihadiri Kepala Balawista Bali I Made Suparka, Ketua BASIS Bali Dewa Wisarjana, Wakil Ketua BASIS Bali Wayan Antara Kusuma atau Jro Ibon, serta Sekjen BASIS Bali Putu Sugiarta.

Kehadiran Balawista Indonesia dalam pelatihan tersebut sekaligus memperkuat materi penyelamatan yang diberikan kepada peserta, terutama terkait kesiapsiagaan menghadapi insiden di area kolam renang.

Security Jadi Salah Satu Tulang Punggung Keamanan Hotel

Dalam arahannya, Kepala Balawista Bali I Made Suparka menegaskan bahwa personel security mempunyai peran yang sangat penting dalam operasional hotel. Tugas security saat ini, menurutnya, tidak lagi sebatas melakukan penjagaan dan pengamanan aset.

Di sejumlah hotel, kata Suparka, telah terdapat quick responder group atau kelompok respons cepat. Dalam pelaksanaannya, security kerap menjadi salah satu unsur penting karena keberadaannya dibutuhkan selama operasional hotel berlangsung.

“Pengamanan di hotel itu sekarang salah satu tulang punggungnya adalah security. Apalagi sekarang tiap hotel ada quick responder group. Biasanya security yang memegang peranan di sana,” kata I Made Suparka.

Ia menjelaskan, personel dari unit lain di hotel memiliki jam kerja masing-masing. Ketika sebagian petugas telah menyelesaikan tugasnya, security masih berada di lingkungan hotel untuk menjalankan fungsi pengamanan.

Situasi itulah yang membuat security berpotensi menjadi salah satu pihak pertama yang menghadapi suatu kejadian darurat.

Menurut Suparka, kondisi tersebut menjadi alasan kuat mengapa personel security perlu terus menambah pengetahuan dan keterampilan, termasuk kemampuan dasar penyelamatan.

Kolam Renang Tetap Memiliki Potensi Risiko

Suparka mengatakan hampir setiap hotel memiliki fasilitas kolam renang. Meskipun banyak kolam saat ini memiliki kedalaman yang relatif lebih rendah, bukan berarti potensi kecelakaan dapat diabaikan.

Ada pula kolam dengan bagian tertentu yang cukup dalam sehingga tetap membutuhkan pengawasan dan kesiapsiagaan.

“Memang setiap hotel pasti ada kolam renang. Sekarang kolam renangnya banyak yang dangkal, tetapi kadang ada juga yang masih dalam. Jadi security harus menambah ilmu,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan tersebut semakin penting ketika petugas khusus di area tertentu telah selesai bertugas, sementara aktivitas tamu masih berlangsung.

“Selanjutnya siapa yang ada di sekitar sana? Yang pasti security,” tegasnya.

Karena itu, kemampuan membaca situasi dan memberikan respons awal menjadi modal penting bagi personel keamanan sebelum petugas yang memiliki kompetensi khusus atau bantuan medis tiba di lokasi.

Antisipasi Berbagai Kondisi Tamu

Suparka turut menyinggung kompleksitas situasi yang dapat dihadapi petugas hotel, terutama di kawasan pariwisata dan pusat hiburan.

Hotel dapat menerima tamu dengan beragam aktivitas dan kondisi. Ada kemungkinan tamu kembali ke hotel setelah mengonsumsi minuman beralkohol sehingga kewaspadaan dan kemampuan petugas dalam menghadapi potensi kecelakaan harus ditingkatkan.

“Kalau hotelnya di sekitar tempat hiburan, bisa saja ada tamu yang minum-minum kemudian pulang dalam kondisi mabuk. Bisa saja terjadi kecelakaan,” ungkap Suparka, Sabtu (19/9/2026).

Namun, ia menegaskan risiko kecelakaan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di kolam renang.

Kondisi darurat dapat terjadi di mana saja dalam lingkungan hotel. Tamu dapat terpeleset, terjatuh, mengalami cedera ataupun menghadapi gangguan kesehatan secara mendadak.

Karena itu, kemampuan dasar penanganan kondisi darurat menjadi relevan tidak hanya bagi lifeguard dan security, tetapi juga bagi pekerja hotel secara lebih luas.

Bukan Hanya Lifeguard dan Security yang Perlu Dilatih

Suparka menilai konsep keselamatan idealnya menjadi budaya bersama di lingkungan kerja.

Menurutnya, pelatihan keselamatan tidak seharusnya berhenti pada lifeguard atau personel security. Karyawan dari berbagai bagian juga perlu dibekali pengetahuan dasar agar memahami langkah yang tepat apabila berada paling dekat dengan lokasi suatu insiden.

“Bukan lifeguard saja yang harus di-training, bukan security saja, tetapi seluruh komponen pegawai dan karyawan yang ada di hotel perlu menambah ilmunya,” katanya.

Hal tersebut penting karena dalam sebuah keadaan darurat, orang pertama yang berada di lokasi belum tentu petugas medis atau penyelamat profesional.

Dengan bekal pengetahuan yang memadai, karyawan diharapkan dapat mengenali kondisi darurat, mengaktifkan prosedur pertolongan serta menghubungi petugas yang berkompeten tanpa melakukan tindakan yang justru dapat membahayakan korban maupun dirinya sendiri.

Kemampuan Rescue Harus Terus Di-Refresh

Dalam kesempatan tersebut, Suparka juga menekankan bahwa keterampilan penyelamatan membutuhkan latihan secara berkala.

Ia mencontohkan pengelolaan keselamatan di fasilitas rekreasi air atau water boom yang setiap harinya dapat menerima ribuan pengunjung.

Tingginya jumlah pengunjung membuat pengelola harus memastikan lifeguard dan attendant memiliki kemampuan yang selalu terjaga.

Suparka mengatakan, sekitar 150 petugas pada fasilitas yang dicontohkannya mendapatkan pelatihan secara berkala, bahkan hingga dua kali dalam setahun.

“Karena begitu ramai, setiap hari ribuan pengunjung datang. Makanya petugas-petugasnya, lifeguard dan attendant, terus di-training. Mereka punya sekitar 150 petugas sekarang. Mereka di-training dua kali setahun, diingatkan dan di-refresh terus. Jangan sampai terjadi suatu kecelakaan,” cetusnya.

Penegasan tersebut disampaikan I Made Suparka yang baru kembali dari kegiatan memberikan pelatihan lifeguard di Ambon.

Pengalaman tersebut semakin menegaskan bahwa keterampilan penyelamatan tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Kemampuan harus terus dilatih sehingga petugas mampu bereaksi secara cepat dan terukur ketika menghadapi kondisi nyata.

BASIS Bali Perkuat Kompetensi Personel Keamanan

Sementara itu, penyelenggaraan Basic Pool Rescue Training menjadi salah satu wujud perhatian Basis Keamanan dan Keselamatan Bali terhadap peningkatan profesionalisme personel keamanan.

Ketua BASIS Bali Dewa Wisarjana, bersama Wakil Ketua Wayan Antara Kusuma atau Jro Ibon dan Sekjen Putu Sugiarta, hadir dalam kegiatan tersebut.

Kolaborasi BASIS Bali dengan Balawista Indonesia diharapkan mampu memberikan nilai tambah kepada para peserta, terutama dalam membangun pemahaman bahwa fungsi keamanan dan keselamatan merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Security pada industri pariwisata modern tidak lagi hanya dituntut mampu menjaga pintu masuk, melakukan patroli atau mengantisipasi gangguan keamanan. Kondisi di lapangan menuntut mereka mempunyai wawasan lebih luas mengenai keselamatan dan respons kedaruratan.

Basic Pool Rescue Training menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kemampuan tersebut.

Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan di Kolam Renang Tirta Yasa, Desa Mambal, Badung, diharapkan tidak hanya memberikan tambahan keterampilan teknis kepada peserta, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya kesiapsiagaan.

Keselamatan Wisatawan Bagian dari Kualitas Pariwisata Bali

Sebagai salah satu destinasi wisata internasional, Bali memiliki ribuan hotel, vila, resort, tempat hiburan serta fasilitas rekreasi yang setiap hari melayani wisatawan domestik maupun mancanegara.

Di tengah tingginya aktivitas tersebut, aspek keamanan dan keselamatan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelayanan pariwisata.

Wisatawan tidak hanya membutuhkan fasilitas yang baik dan pelayanan ramah. Mereka juga membutuhkan jaminan bahwa pengelola dan petugas memiliki kesiapan ketika kondisi darurat terjadi.

Karena itu, pelatihan seperti Basic Pool Rescue Training memiliki arti strategis. Semakin banyak personel yang memahami prinsip keselamatan dan prosedur respons awal, semakin kuat pula lapisan kesiapsiagaan di lingkungan pariwisata.

Namun, kemampuan dasar yang diberikan melalui pelatihan bukan untuk menggantikan fungsi lifeguard, tenaga medis maupun penyelamat profesional. Kompetensi tersebut menjadi bekal agar petugas dapat mengenali bahaya, memberikan respons awal sesuai kapasitasnya serta segera mengaktifkan bantuan profesional.

Kolaborasi BASIS Bali dan Balawista Indonesia melalui Basic Pool Rescue Training pada 19–20 September 2026 ini sekaligus membawa pesan bahwa profesionalisme seorang petugas keamanan tidak hanya diukur dari kemampuannya mencegah gangguan keamanan.

Kesiapsiagaan menghadapi kecelakaan, kepedulian terhadap keselamatan orang lain, kemampuan mengambil tindakan awal yang tepat serta kesadaran untuk terus meningkatkan kompetensi juga menjadi bagian penting dari profesionalisme tersebut.

Sebab ketika kondisi darurat benar-benar terjadi, petugas yang terlatih, sigap dan memahami apa yang harus dilakukan dapat menjadi mata pertama yang melihat bahaya, tangan pertama yang memberikan pertolongan, sekaligus penghubung pertama menuju bantuan profesional.

Pelatihan tersebut diikuti 37 peserta yang berasal dari berbagai hotel dan beach club di Bali. Mereka mendapatkan pembekalan untuk meningkatkan pengetahuan, kesiapsiagaan, serta kemampuan dasar dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya kecelakaan yang terjadi di area kolam renang maupun lingkungan kerja pariwisata.

Melalui pelatihan selama dua hari di Mambal tersebut, BASIS Bali bersama Balawista Indonesia berharap budaya keamanan dan keselamatan semakin kuat, khususnya di lingkungan perhotelan dan industri pariwisata Bali.

( dd99 )

Loading

banner 728x250
banner 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250